RSS

Senin, 22 April 2013

KOMPETENSI BIDAN I



Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan ketrampilan dari ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat, dan etik yang membentuk dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir dan keluarganya.
a.      Pengetahuan dan ketrampilan dasar
·        Kebudayaan dasar masyarakat Indonesia.
→ Kebudayaan yang mendasar atau sudah mendarah daging pada masyarakat Indonesia sejak jaman dahulu dan sampai sekarang masih ada serta berlaku dalam kehidupan masyarakat.
·        Keuntungan dan kerugian praktek tradisional dan modern.
Keuntungan praktek tradisional:
Ø  Lebih murah biayanya.
Ø  Menguasai adat dan tradisi masyarakat.
Ø  Masyarakat lebih bisa menerimanya.( masyarakat kebayakan lebih percaya kepada dukun bayi yang menggunakan cara tradisional daripada seorang bidan yang sudah berpengalaman)
Kerugian praktek tradisional:
Ø  Menggunakan cara-cara tradisional yang diwariskan secara turun temurun.
Ø  Pengetahuan dan pengalaman tenaga kerjanya masih kurang.
Ø  Alat-alat yang digunakan kebayakan masih sederhana(alamiah)/tidak steril sehingga memungkinkan terjadinya infeksi.
Keuntungan praktek modern:
Ø  Sudah menggunakan peralatan yang modern, penyediaan obat-obatan yang lengkap.
Ø  Higenitas dan tindakan lanjutan perawatannya lebih tepat.
Ø  Tenaga kerjanya sudah ahli dan mempunyai pengetahuan yang berkembang.
Kerugian praktek modern:
Ø  Kurang menguasai adat dan tradisi masyarakat.
Ø  Biayanya cenderung lebih mahal.
·        Sarana tanda bahaya serta transportasi kegawatdaruratan bagi anggota masyarakat yang sakit yang membutuhkan asuhan tambahan.
→ Seorang bidan harus melakukan rujukan yang tepat ke institusi pelayanan kesehatan yang lebih tinggi apabila terjadi komplikasi/tanda kegawatdaruratan pada pasien serta menyiapkan transportasi yang memadai,seperti ambulans,mobil kesehatan,dll.
·        Penyebab langsung maupun tidak langsung kematian dan kesakitan ibu dan bayi di masyarakat.
→Penyebab langsung dan tidak langsung kematian ibu
Faktor medis yang menjadi penyebab langsung kematian ibu adalah pendarahan 42%, keracunan kehamilan (eklamsia) 13%, keguguran (abortus) 11%, infeksi (10%), persalinan macet (partus lama) 9% dan penyebab lain 15%. Sedangkan penyebab non medis yakni status nutrisi ibu hamil yang rendah, anemia pada ibu hamil, terlambat mendapat pelayanan, serta usia yang tidak ideal dalam melahirkan, terlalu banyak anak dan terlalu dekat jarak melahirkan.
Beberapa penyebab tak langsung yakni terlambat mencari pertolongan, terlambat membawa ke tempat rujukan serta terlambat memberi pertolongan di tempat rujukan. Penyebab lain yang digolongkan sebagai penyebab tidak langsung kematian ibu antara lain masih rendahnya status perempuan di Indonesia. Kejadian kesakitan dan kematian ibu hamil juga berakar pada ketidakberdayaan perempuan dalam mendapatkan kesetaraan dalam hal pendidikan, pekerjaan, ekonomi serta dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar.
→ Penyebab langsung dan tidak langsung kematian bayi
Ada empat penyebab langsung kematian bayi, yakni berat badan badan rendah mencapai 29%, asfiksia 27%, masalah pemberian makanan 10%, tetanus 10%, infeksi 5%dan lain-lain 13%. Sedangkan faktor-faktor yang secara tidak langsung menyebabkan kematian bayi berupa kurangnya kesadaran masyarakat bahwa melahirkan berisiko terhadap ibu dan bayi. Selain itu, kurangnya perhatian keluarga (ibu, suami dan nenek) terhadap keselamatan dan kesehatan bayi, kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan minimal empat kali selama kehamilan, rendahnya akses ke fasilitas pelayanan kesehatan yang disebabkan jarak yang jauh, tidak punya biaya. 
·        Advokasi dan strategi pemberdayaan wanita dalam mempromosikan hak-haknya yang diperlukan untuk mencapai kesehatan yang optimal (kesetaraan dalam memperoleh pelayanan kebidanan)
·        Keuntungan dan resiko dari tatanan tempat bersalin yang tersedia.
→ Tempat bersalin yang bersih dan nyaman mempengaruhi proses persalinan itu sendiri. Lingkungan yang bersih dapat menambah semangat si ibu untuk melahirkan. Tapi sebaliknya tatanan tempat bersalin yang kotor dapat mempengaruhi psikis ibu dan ketakutan adanya bahaya infeksi yang dapat membahayakan ibu dan bayi yang dilahirkan.
·        Advokasi bagi wanita agar bersalin dengan aman.
→ Memberikan saran kepada ibu yang akan melahirkan agar bersalin di tempat yang menjamin keselamatan dirinya dan juga bayi yang akan dilahirkannya nanti. Menyarankan untuk melahirkan di klinik bidan atau rumah sakit, jangan di tempat dukun atau tempat yang tidak menjamin keselamatan dirinya.
·        Masyarakat keadaan kesehatan lingkungan, termasuk penyediaan air, perumahan, resiko lingkungan, makanan, dan ancaman umum bagi kesehatan.
·        Standar profesi dan praktik kebidanan.
→ untuk menentukan kompetensi yang diperlukan dalam praktek sehari-hari.
Ø  Standar pelayanan umum : registrasi, rincian kegiatan pelayanan, promosi.
Ø  Standar pelayanan antenatal : identifikasi ibu hamil, pemeriksaan dan pemantauan antenatal, palpasi abdomianal, persiapan persalinan.
b.      Pengetahuan dan Keterampilan Tambahan
·        Epidemiologi, sanitasi, diagnosa masyarakat dan vital statistik.
→ Epidemiologi : ilmu yang mempelajari hubungan antara berbagai faktor yang menentukan frekuensi dan distribusi penyakit pada komunitas manusia.
→ Sanitasi : menciptakan keadaan lingkungan yang baik untuk kesehatan.
→ Diagnosa masyarakat : penentuan  sifat penyakit di lingkungan masyarakat dengan memperhatikan gejala,tanda yang ada.

→ Vital statistik :
1.      Salah satu teknik untuk menilai status kesehatan masyarakat dalam kesatuan populasi tertentu.
2.       Alat bantu menghasilkan ukuran dalam penafsiran akan fakta kesehatan.
3.      Bagian statistik kesehatan yang menghasilkan ukuran tentang kejadian dalam kehidupan manusia dari konsepsi sampai mati.
4.      Statistik vital adalah statistik mengenai kesehatan dan bertujuan mempublikasikan data kesehatan yang berguna sekali bagi evaluasi aktivitas, perencanaan, dasar tindak lanjut suatu pemantauan dan penelitian (Slamet, 2004)
Fungsi Vital  Statistik
1.      Menilai dan membandingkan tingkat kesehatan masyarakat.
2.      Menentukan masalah dan penyebab masalah kesehatan masyarakat.
3.      Menentukan kontrol dan pemeliharaan selama pelaksanaan program kesehatan.
4.      Menentukan prioritas program kesehatan suatu daerah.
5.      Menentukan keberhasilan program suatu daerah.
6.      Mengembangkan prosedur, klasifikasi, indeks dan teknik evaluasi seperti sistim pencatatan dan pelaporan.
7.      Menyebarluaskan informasi tentang situasi kesehatan dan program kesehatan
Kejadian yang dinilai dalam vital statistik
-Kejadian kematian
-Kelahiran
-Perkawinan
-Perceraian
-Adopsi Penyakit
·        Infrastruktur kesehatan setempat dan nasional, serta bagaimana mengakses sumberdaya yang dibutuhkan untuk asuhan kebidanan.
→ Infrastruktur yang dimaksud adalah puskesmas, klinik bersalin, rumah sakit,dll.
→ Sumber daya yang di butuhkan : peran ibu itu sendiri, suami, dan anggota keluarga yang lain.
·        Primary Health Care (PHC) berbasis di masyarakat dengan menggunakan promosi kesehatan serta strategi pencegahan penyakit.
→ Dengan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan dalam hidup kita, bagaimana menjaga kesehatan itu sendiri serta cara pencegahan terhadap suatu penyakit yang berbahaya di lingkungan masyarakat.
·        Program imunisasi nasional dan akses untuk pelayanan imunisasi.
→ Dengan memberikan imunisasi terhadap balita secara berkala serta pemberian vaksin untuk pencegahan terhadap penyakit,seperti vaksin hepatitis, cacar, dll.
Penyediaan lapangan yang memadai,seperti posyandu yang berlangsung secara terjadwal.
c.      Perilaku profesional bidan
·        Berpegang teguh pada filosofi, etika profesi dan aspek legal.
→ filosofi :sesuatu yang bisa memberikan gambaran dan berperan sebagai dasar untuk memberikan informasi dan meningkatkan praktik profesional.
→ etika profesi : mengatur sikap, tindak tanduk orang dalam menjalankan tugas profesinya yg biasa.
·        Bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan keputusan klinis yang dibuatnya.
→ Seorang bidan harus bisa bertanggung jawab apabila sesuatu terjadi kepada pasien yang ditanganinya. Dan bisa mempertanggungjawabkan di hadapan hukum dan orang/institusi yang bersangkutan.
·        Senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mutakhir.
→ Bidan harus berpikir statis (berkembang) mengikuti perkembangan IPTEK, jangan cenderung monoton kepada teori yang sudah ada, padahal teori kebidanan di setiap tahun itu bisa berubah-ubah.
·        Menggunakan cara pencegahan universal untuk penularan  penyakit dan strategi pengendalian infeksi.
→ Pencegahan universal yaitu dengan melibatkan banyak orang,misalnya:di rumah sakit melibatkan pasien itu sendiri dengan menjaga kebersihan tempat dan badannya, tenaga medis yang bekerja(dokter,suster,bidan) dengan kebiasaan mencuci dan menggunakan sarung tangan sebelum melakukan tindakan keperawatan, serta lingkungan rumah sakit baik kebersihannya, maupun pengunjung yang datang untuk menjenguk pasien.
·        Melakukan konsultasi dan rujukan yang tepat dalam memberikan asuhan kebidanan.
·        Menghargai budaya setempat sehubungan dengan praktik kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode pasca persalinan, bayi baru lahir dan anak.
→ Dalam hal ini bidan dalam melakukan tindakan perlu mengkaji keadaan lingkungan itu seperti apa, dapat memposisikan diri di lingkungan dengan baik, serta menyesuaikan dengan adat budaya yang ada.
·        Menggunakan model kemitraan dalam bekerja sama dengan kaum wanita/ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah diinformasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri.
→ Bidan menjalin kerjasama yang baik dengan kaum ibu dalam penanganan masalah yang ada pada ibu sesuai dengan apa yang sudah disarankan oleh bidan (saling bertukar pikiran). Bidan juga harus meminta persetujuan secara tertulis,supaya dalam prakteknya nanti apabila terjadi kesalahan tidak menjadi tanggungan bidan seutuhnya.
·        Menggunakan keterampilan mendengar dan memfasilitasi.
·        Bekerja sama dengan petugas kesehatan lain untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada ibu dan keluarga.
→ Misal : dengan tenaga kerja dirumah sakit baik negeri maupun swasta, tenaga kesehatan masyarakat,dll.
·        Advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan.
→ Bidan memberikan saran, melindungi dan mendukung apa yang menjadi pilihan ibu yang menjadi hak-haknya.          

0 komentar:

Poskan Komentar